Sabtu, 30 November 2019

Pesantren Impian

Cinta, Teka-Teki, dan Kematian 

Novel yang ditulis oleh Asma Nadia ini cukup menegangkan. Dengan tebal 292 lembar, buku ini mampu membuat pembaca tidak merasa bosan, bahkan semakin penasaran dengan kelanjutan kisah tiap babnya. 

Dikisahkan ada sebuah pesantren megah di daerah terpencil yang masih dalam wilayah Aceh namun tidak ada dalam peta, lengkap dengan semua fasilitas pendukung, seperti taman, tempat olahraga, dan lain sebagainya. Pesantren itu dikenal dengan "Pesantren Impian" yang setiap tahun mengundang beberapa remaja dengan latar belakang yang bermasalah untuk dibina selama satu tahun. 

Remaja putri yang mendapat undangan berjumlah lima belas orang dengan latar belakang yang berbeda, seperti pembunuh, pecandu, pengedar, bahkan korban pemerkosaan berkumpul di tempat itu. Yang membuat manarik buku ini adalah beberapa teka-teki yang disuguhkan penulis pada beberapa tokoh. 

Terdapat dua tokoh yang menonjol dalam novel ini, Rini dan si Gadis. Rini adalah seorang gadis yang kalem, penurut, dan selalu dekat dengan ibunya. Ia putri dari keluarga terpandang yang sangat menjaga nama baik keluarga. Namun, ia terpaksa menerima undangan pergi ke Pesantren Impian setelah niatnya untuk bunuh diri gagal. 

Rini yang seorang anak rumahan, menemui takdir yang sangat mengerikan. Ia diperkosa di rumahnya sendiri, dan celakanya ia tak mampu mengingat wajah pelakunya, hanya samar mengenali topeng tokoh Rahwana dalam pewayangan dan suara tawa yang menjijikkan. 

Sedangkan si Gadis diceritakan hidup dengan penuh perjuangan. Ia dibesarkan di sebuah panti. Lalu terpaksa bekerja melayani para laki-laki hidung belang, bahkan tanpa sengaja ia membunuh salah satu klien yang sempat membawanya ke sebuah hotel. Lalu ia menerima undangan dari Pesantren Impian untuk menghilangkan jejaknya. Tentu saja identitas si Gadis baru bisa kita ketahui di akhir cerita. Menarik bukan? 

Di akhir cerita, terjawablah semua teka-tekinya, bersatulah beberapa hati yang sempat terluka, dan semangat untuk kembali hidup dirasa oleh semua remaja. Lalu ditutup dengan sebuah penyatuan rasa dua insan yang memiliki latar belakang hampir sama dalam ikatan suci bernama pernikahan. Dimana tidak ada yang  pernah mengira, bahwa jodoh ada di depan mata. Selamat membaca ....

Jumat, 29 November 2019

Produk Edukasi

Produk Al-Qalam 
Untuk menjawab tantangan menulis pekan dua kali ini, saya teringat beberpa tahun lalu saat buah hati kami memasuki usia batita. Saya mencari mainan apa yang bisa membuatnya senang sekaligus ada pembelajaran yang didapat. Nah, pada saat itu pilihan hati tertarik pada produk Al-qalam. Selain bentuknya yang unik, konten edukasinya pun menarik.

Sempat minder saat mengetahui harganya. Namun, ternyata mereka juga menyediakan pembayaran model tabungan atau arisan perkelompok. Disini kembali terusik, mampukah setiap bulan menabung atau membayar arisan? Ternyata bisa. Karena memang ada niat.

Apa produk yang saya pilih untuk usia putra saya yang hampir tiga tahun? Hafiz Doll. Iya, boneka yang bisa mengaji(hafiz). Dengan harga yang fantastis menurut saya pada saat itu, ternyata konten boneka cukup menarik. Terdapat murottal tiga puluh juz, kisah dua puluh lima Nabi dan Rasul, asmaul husna, lagu-lagu dari Alqolam, beberapa kosa kata dengan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Orangtua tetap harus mendampingi supaya tetap ada interaksi aktif. Boneka tersebut dilengkapi dengan charger, buku panduan berisi semua hal yang terdapat pada boneka, kartu garansi satu tahun, serta kardus tempat menyimpan. Boneka ini ada dua jenis atau bentuk. Bentuk laki-laki (hafiz) dan bentuk perempuan (hafizah).

Meskipun sudah ada media edukasi, tetaplah saya sebagai ibu adalah sekolah pertama bagi putra saya. Maka hal yang pertama saya kenalkan setelah dia lancar berbicara adalah "Alfatihah". Karena sebagai muslim kita tahu bahwa amalan yang pertama kali dihisab atau diperhitungkan kelak adalah "Shalat". Dan shalat itu tidak akan diterima manakala Alfatihah tidak dibaca. Selain itu, apapun kebaikan yang kita ajarkan pada orang lain, selama orang tersebut mengamalkannya, maka kita akan mendapat kebaikannya pula, tentu tanpa mengurangi kebaikan orang yang mengerjakannya.

Nah, kiranya itu salah satu produk edukasi yang menarik bagi saya. Tentu saja produk tersebut hanya sebagai alat atau media. Orangtua masing-masinglah yang bisa membantu anak-anaknya menuju kesuksesan dunia akhirat.
Karena jatuh cinta itu tidak bisa memilih. 



Kamis, 28 November 2019

Pembelahan dada Muhammad SAW.

Sudah menjadi tradisi bangsa arab untuk menyusukan bayi-bayi mereka pada para wanita di daerah pedesaan, supaya mereka tumbuh di lingkungan yang masih alami dan terbiasa mendengarkan bahasa arab yang fasih.

Begitu pula bayi Muhammad yang dibawa ke dusun Bani Sa'ad. Ia menjadi anak susuan dari seorang perempuan bernama Halimah binti Abu Dzu'aib dan suaminya, Al-Harits bin Abdul Uzza. Herannya, setelah keberadaan Muhammad kecil, keluarga mereka tidak merasa adanya tambahan beban hidup. Bahkan ladang kecil mereka selalu hijau dan subur, unta tua mereka kembali menghasilkan susu, keledai mereka bertambah kuat, dan domba-domba menjadi gemuk.

Setelah dua tahun, saatnya mereka mengembalikan Muhammad pada ibunya. "Kalian telah merawat Muhammad dengan baik, bagaimana aku harus berterimakasih?" Kata Aminah pada mereka.
"Kami hanya berharap, andaikan saja Muhammad boleh bersama kami sampai ia dewasa." Jawab suami istri tersebut mengiba.
Lalu datanglah Abdul Muthalib dan mengatakan "Biarlah Muhammad kembali ke dusun Bani Sa'ad sampai berusia lima tahun. Agar ia dapat berkata dan terbiasa mendengarkan bahasa Arab yang fasih."
Muhammad pun diizinkan tinggal kembali bersama mereka.

Saat mereka telah kembali di dusun Bani Sa'ad dan usia Muhammad belum genap tiga tahun, sebuah peristiwa penting terjadi. Saat itu Muhammad kecil ikut penggembalakan kambing bersama saudara-saudaranya. Tiba-tiba salah satu putra Halimah datang dengan berlarian dan menangis.
"Ada apa?" Tanya Halimah dan suaminya panik.
"Saudaraku yang dari Quraisy itu! Dia diambil oleh seorang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan! Perutnya dibuka sambil dibalik-balikkan!"

Mereka berdua sangat khawatir mendengar cerita anaknya dan segera berlari mencari Muhammad. Lalu keduanya menemukannya dalam keadaaan sendiri dengan muka pucat pasi.
"Apa yang terjadi padamu, Nak?" Tanya Halimah sambil merangkulnya ...

Saking takutnya, lalu Halimah mengembalikan Muhammad kepada ibunya. Setelah menceritakan apa yang terjadi, Aminah mengatakan,
" Demi Allah, setan tidak akan mendapatkan jalan untuk masuk ke dalam jiwa Muhammad. Sesungguhnya, anakku akan menjadi orang besar dikemudian hari. Ketika aku mengandungnya, aku melihat sinar keluar dari perutku. Dengan sinar itu aku bisa melihat istana-istana Busra di Syam menjadi terang benderang. Demi Allah, aku tidak pernah melihat orang mengandung yang lebih ringan dan lebih mudah dari yang kurasakan. Ketika aku melahirkannya, ia meletakkan tangannya di tanah dan kepalanya menghadap ke langit." Aminah menenangkan Halimah dan memintanya untuk membawa kembali bersamanya.

Namun, dengan adanya beberapa peristiwa lagi yang sangat mengkhawatirkan setelah kejadian pembelahan dada, akhirnya Muhammad kecil dikembalikan pada keluarga. Tahukah kalian bagaimana Rasulullah SAW menceritakan pembelahan dadanya pada para sahabat? Yuk simak kisahnya.

"Ketika aku bersama saudaraku di belakang rumah sedang menggembalakan kambing, tiba-tiba dua orang berpakaian putih datang kepadaku dengan membawa baskom emas yang penuh berisi salju. Kedua orang tersebut mengambilku, lalu membuka dadaku, mengeluarkan jantungku, membukanya juga, mengeluarkan gumpalan hitam dari jantungku, dan membuangnya.

Setelah itu keduanya mencuci jantung dan dadaku dengan salju yang telah dibersihkan. Salah satu dari keduanya berkata; Timbanglah dia dengan sepuluh orang dari umatnya. Dia menimbangku dengan sepuluh orang dari umatku, ternyata aku lebih berat dari mereka; Timbanglah ia dengan seratus orang dari umatnya, ternyata aku lebih berat dari mereka; Timbanglah ia dengan seribu orang dari kaumnya, dan tetaplah aku lebih berat dari mereka. Hingga berkatalah orang pertama; Biarkan dia, Demi Allah seandainya engkau menimbangnya dengan seluruh umatnya, dia pasti lebih berat dari mereka."

Demikian apa yang dikisahkan Rasulullah SAW pada sahabatnya tentang bagaimana kejadian saat para hamba Allah membelah dadanya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. SHALLU 'ALANNABII MUHAMMAD!





Rabu, 27 November 2019

Kelahiran Rasulullah SAW (part 2)

Jiwa yang Tergadai.

Tahukah kalian siapa beliau? Mengapa jiwanya tergadai?
Yup. Kali ini kita akan membahas tentang ayah Rasulullah SAW. Siapa lagi kalau bukan "Abdullah". Kakek moyang dari Nabi kita adalah Hasyim bin Abdul Manaf. Beliau seorang pemuka masyarakat yang hidup berkecukupan karena pandai berdagang.

Suatu ketika ia mengatakan, "Wahai penduduk Makkah, aku membagi perjalanan kalian menurut musim. Jika musim dingin tiba, pergilah berdagang ke Yaman yang hangat. Jika musim panas, giliran kalian ke Syam yang sejuk." Di bawah pimpinannya, Makkah menjadi pusat perdagangan yang sangat maju. Ia menikah dengan seorang wanita dari Yatsrib dan memiliki seorang putra bernama "Syaibah". Namun sebelum sempat menyaksikan putranya lahir ke dunia, ia telah meninggal dunia.

Kekuasaan dilanjutkan oleh adiknya, Al-Muthalib. Suatu ketika, Al-Mutahlib menjemput Syaibah (keponakannya) untuk dibawa ke Makkah. Karena Syaibah dibonceng duduk di belakangnya, orang-orang memanggilnya "Abdul Muthalib" sampai akhirnya ia dipercayai juga memimpin Mekkah.

Suatu ketika, Abdul Muthalib bernazar (janji) jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki yang kuat, ia akan mengorbankan salah satunya untuk berhala. Ternyata ia benar-benar memiliki sepuluh anak laki-laki dan pilihan untuk nadzar itu jatuh pada Abdullah, si bungsu yang sangat dicintainya.

Karena tidak mungkin mengorbankan buah hatinya, Abdul Muthalib mengganti nadzar tersebut dengan tebusan berupa penyembelihan 100 unta dan dibagikan kepada seluruh masyarakat Makkah. Abdullah pun tumbuh menjadi pemuda yang sangat rupawan. Dan ia menikah dengan perempuan yang paling baik keturunan serta kedudukannya di kalangan suku Quraisy, Aminah binti Wahb. Kelak, dari kedua orang inilah terlahir manusia pilihan, Nabi Muhammad SAW.


Nganjuk, 27 Nopember 2019




Kelahiran Rasulullah SAW (part 1)

Masih ingatkah pelajaran "Sejarah Kebudayaan Islam?"

Bagi sebagian orang, pelajaran sejarah adalah salah satu dari beberapa pelajaran di bangku sekolah yang kurang disukai. Bahkan banyak diantara kita saat itu yang "terlelap" karena saking asyiknya mendengarkan dongeng bapak ibu guru.

Muhammad kecil terlahir dari Suku Quraisy. Suku yang sangat berpengaruh di Jazirah Arab pada masa itu. Karena seluruh anggotanya berperan dalam penyediaan "Air Zam-Zam" untuk menyambut tamu yang datang dari segala penjuru dunia. Selain itu, Abdul Muthalib (kakek Muhammad) adalah seorang yang menemukan kembali "Zam-Zam" yang pernah hilang.

Kepercayaan mereka sebelum datangnya Islam beragam. Ada yang mengikuti agama "Hanif" yang diajarkan Nabi Ibrahim AS. Dan ada pula yang menyembah ruh nenek moyang atau berhala. Bertepatan dengan hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal atau 20 April 571 M, lahirlah seorang bayi tampan dari seorang ibu yang bernama Aminah, dan ayahnya adalah Abdullah. Namun sayangnya, Abdullah telah meninggal saat perjalanan perniagaan dan Muhammad masih dua bulan dalam kandungan ibunya.

Banyak sekali kejadian yang menakjubkan saat itu. Diantaranya adalah datangnya "Pasukan Bergajah" beberapa hari sebelum Muhammad terlahir. Pasukan dari Yaman yang dipimpin oleh Raja Abrahah itu ingin menyerang kota Makkah karena rasa iri terhadap "Ka'bah" yang setiap tahun dikunjungi oleh orang-orang dari segala penjuru dunia. Abrahah telah membangun sebuah bangunan megah di Yaman, namun tidak ada yang mengunjunginya.

Ketika hendak memasuki kota Mekkah, pasukan yang mengendarai gajah tersebut diluluh lantakkan oleh segerombolan burung kecil "Ababil" yang menjatuhkan kerikil panas hingga mengoyak tubuh mereka. Lalu tubuh-tubuh mereka jatuh bergelimpangan dan berlubang laksana daun yang dimakan ulat. Kejadian tersebut diabadikan dalam Q.S. Al-Fiil.

Selain itu, terdapat pula sebuah cahaya yang bersinar terang keluar dari rumah Abdul Muthalib saat kelahiran Muhammad hingga membuat gaduh binatang dan membangunkan para budak. Beberapa puluh kilo dari tanah Mekkah, kobaran api abadi yang selama itu tidak pernah padam dan menjadi sembahan orang Majusi, mendadak padam tanpa adanya sebab.

Begitulah kiranya beberapa kejadian yang menyambut kedatangan manusia pilihan. Tahun kelahirannya disebut sebagai "Tahun Gajah" karena terdapat peristiwa yang sangat bersejarah, tentunya bagi masyarakat Mekkah. Sesaat setelah kelahirannya, kakeknya memberi nama "Ahmad atau Muhammad" setelah membawanya masuk ke dalam ka'bah. Semua ikut bersuka cita, termasuk juga pamannya, Abu Lahab.



Rabu, 30 Rabiul Awwal 1441 M

Senin, 25 November 2019

The Power of Mother

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh ... 
Lewati duka penuh darah penuh nanah ...
Seperti udara kasih yang engkau berikan ... 
Tak mampu ku membalas ... Ibu .... 

Pernahkah kita mendengar kisah seorang pemuda yang mampu menyadarkan sekelompok perampok? Adalah seorang pemuda yang masih sangat belia, ia berkelana karena hendak memperdalam ilmunya. Di tengah perjalanan, ia dihadang dan digertak oleh sekelompok perampok yang tentu saja mengincar hartanya.

Lalu, dengan lantang dan penuh percaya diri, pemuda itu mengatakan, "Aku telah berjanji pada ibuku untuk selalu berlaku jujur, dan aku tidak mau mengkhianatinya. Aku membawa uang sebanyak empat puluh dinar." Ia menyodorkan perbekalannya kepada para perampok.

Pemimpin dari perampok itu seketika terdiam cukup lama, lalu ia menangis mendengar jawaban pemuda itu. Lelaki itu mengatakan, "Engkau takut mengkhianati janji pada ibumu. Bagaimana mungkin aku tidak takut pada Tuhanku." Setelah itu, dia meminta maaf dan berjanji tidak akan merampok lagi. Begitupun dengan semua kelompoknya.

Siapakah pemuda jujur itu? Tidak lain beliau adalah "Syekh Abdul Qadir Aljilani" yang dikenal di seluruh dunia. Tentu, dibalik itu semua terdapat sosok yang yang telah membentuk kepribadian beliau. Siapakah beliau? Ibunya.



Minggu, 24 November 2019

GURU

Siang yang begitu terik. Jalanan penuh debu yang tertiup angin. Angin yang berhembus tidak lagi sejuk, hingga keringat mengucur membasahi baju seragam yang masih harus dipakai sampai sore nanti. Anak-anak berjalan gontai memasuki kelas seakan mereka ingin menyerah untuk saat ini. 

Aku tersenyum pada mereka setelah mengucap salam dan mengatakan "Hari ini adalah hari yang spesial karena diperingati sebagai hari guru. Apakah kalian ingin mendengar tentang guru-guruku?" 
"Iya ... ", serentak mereka menjawab penuh kebahagiaan. 

"Guru adalah orangtua kedua kita. Ada tiga orangtua bagi kehidupan kita ini. Pertama orangtua biologis atau yang telah melahirkan, yang kedua adalah guru, dan yang terakhir adalah mertua. Saya memiliki dua kisah yang sangat berkesan dan bisa kalian ambil pelajaran. 

Pertama, suatu ketika ada teman sedaerah yang dihukum sangat berat. Ia dipukul menggunakan kayu berkali-kali, diseret keluar kelas, dibentak, dicaci, bahkan disuruh menghadap guru yang mengajar kitab ta'lim(adab) yang terkenal sangat menakutkan. 

Oleh guru ta'lim ia dipukul keras sampai suara pukulannya terdengar dari kelas saya. Saat bel istirahat, kami antar dia ke asrama sambil sesenggukan. Karena tidak tahan melihat teman yang dihukum seperti itu hanya karena ia membuka laci guru kami, saya pun ikut marah dan merasa benci pada guru itu. 

Tanpa diduga saat itu juga saya dipanggil untuk setor hapalan, karena masih marah, hapalan itu tiba-tiba lenyap dan saya pun dapat hukuman. Sakit karena hukuman itu telah lama hilang. Namun, akibat dari rasa benci dan tidak ikhlas saat itu menjadikan ilmu yang diajarkan oleh guru tersebut hilang dari ingatan. Dan hal ini sangat  saya sesalkan. 

Kisah kedua, ada seorang guru yang menegur muridnya yang salah. Namun murid itu marah dengan kemarahan yang sangat hingga kakinya menghentak lantai dan tangannya menggebrak bangku. Guru tersebut hanya diam dan menyuruh sang murid kembali ke bangkunya. 

Saya ikut gemetar melihat suasana saat itu karena kebetulan kita sekelas. Tanpa sengaja saya yang mencuri pandang kearah guru tersebut ketahuan dan dipanggil menghadap beliau. Ternyata saya diminta setor hapalan. Dalam suasana yang mencekam, terdengar lirih ucapan beliau pada saya yang mengatakan bahwa saya bukanlah murid yang pandai seperti teman-teman, tetapi saya tidak pernah marah atau membantah. Dan beliau mendoakan semoga kehidupan saya berkah. 

Begitulah kedua kisah tersebut. Satu tentang keberkahan hidup karena doa tulus dari guru. Satu lagi tentang kemarahan atau tidak ikhlasnya saya pada guru saat itu hingga menutup kemanfaatan ilmu. Dari dua kisah ini, dapat kalian ambil pelajaran bahwa keberkahan hidup kita ditentukan oleh orangtua kita, termasuk guru kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "ridha Allah terletak pada ridhanya orangtua." 

Kamipun mengakhiri perjumpaan siang ini dengan saling bersalaman. 




Nganjuk, 25 Nopember 2019

Guru, digugu lan ditiru


Sabtu, 23 November 2019

Usia berapakah anak masuk Pesantren?

Kehidupan Anak Jaman Naw

Beberapa waktu lalu, aku memilih "Niche" tentang dunia anak salah satunya. Kali ini aku ingin menulis tentang usia berapakah baiknya seorang anak yang hendak dimasukkan dalam pesantren. Mengingat banyak sekali kejadian miris di zaman ini yang pelakunya adalah anak-anak yang masih di bawah umur. Mereka tidak lagi malu untuk melakukan hal-hal tabu, bahkan mereka dengan bangga mengekspose di media massa.

Secara psikologi, dikatakan anak-anak saat usia mereka enam sampai dua belas tahun. Kebiasaan yang paling menonjol adalah "meniru". Sehingga pada usia ini, anak-anak cenderung meniru siapa idolanya atau siapa yang ia suka. Dunia maya yang telah masuk dalam kehidupan anak-anak zaman sekarang, membuat mereka seakan "dewasa" sebelum waktunya.

Usia yang tepat untuk memasukkan anak ke pesantren adalah usia menjelang remaja. Yakni setelah usia dua belas tahun, karena pada usia ini anak-anak telah dianggap mampu membuat pilihan dalam bertindak. Tentu saja hal ini jika keadaan lingkungannya mendukung tumbuh kembangnya.

Lain halnya jika kondisi lingkungan kurang mendukung, misal keadaan kedua orang tuanya yang sama-sama bekerja. Atau lingkungan sekitar yang dirasa membahayakan tumbuh kembang si anak. Maka dalam hal ini, orang tua yang memilih untuk memasukkan anaknya ke pesantren saat masih anak-anak, bukanlah suatu kesalahan.

Pesantren bukanlah tempat yang menjamin seseorang menjadi baik. Namun dengan masuk ke pesantren, orangtua telah memilih yang terbaik untuk anaknya. Bukan berarti pula mereka yang tidak pernah masuk ke pesantren adalah orang yang kurang baik. Justru orang tua merekalah yang sangat baik sehingga mampu mendidik anaknya tetap dalam lingkup keluarga.

Kita tidak bisa menyamakan keadaan orang lain dengan keadaan kita. Maka alangkah lebih bijak untuk tidak "menjudge" orang lain tentang apapun, terutama tentang keluarga. Cukuplah kita memperhatikan kebahagiaan keluarga kita, yang tentu dapat diwujudkan sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah SAW.

ﻭﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: "ﺃﺭﺑﻊ ﻣﻦ ﺳﻌﺎﺩﺓ اﻟﻤﺮء: ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺻﺎﻟﺤﺔ، ﻭﺃﻭﻻﺩﻩ ﺃﺑﺮاﺭا، ﻭﺧﻠﻄﺎﺅﻩ ﺻﺎﻟﺤﻴﻦ، ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺭﺯﻗﻪ ﻓﻲ ﺑﻠﺪﻩ".
_

Diriwayatkan dari Rasululloh SAW. Bahwa beliau bersabda: "Empat (kunci) kebahagiaan seseorang adalah:
1. Istrinya sholihah (atau suami yang sholih. Sehingga tidak hanya menuntut hak, tetapi juga mengerti dan mampu memenuhi kewajiban masing-masing sebagai suami-istri).
2. Anak-anaknya baik (dengan dididik agama agar taat syariat dan berbakti kepada orangtua).
3. Berkumpul dengan orang-orang baik (agar selalu diingatkan dan dibimbing menjadi orang baik).
4. Rizkinya di daerahnya sendiri (sehingga tidak terpisah dengan anak-istri dan bisa saling menjaga agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan)".

Demikianlah kiranya gambaran "keluarga bahagia" yang dijelaskan oleh Nabi SAW. Kiranya masing-masing manusia memiliki kehidupan sesuai dengan apa yang digariskanNya, namun dengan tetap berusaha dan berdoa manusia dapat memilih jalan hidupnya.


Tabik,
Nganjuk 23 Nopember 2019

Jagat Lelembut

Dalam buku "Kisah Tanah Jawa; Jagat Lelembut" dipaparkan berbagai hal yang berhubungan dengan dunia yang tak kasat mata. "Datang tidak dijemput, pulang minta diantar" adalah jargon dari dunia mereka.

Buku yang merangkum tentang perjalanan "Tim Kisah Tanah Jawa" yang telah menjelajah di "Jagat Lelembut" mampu memberi gambaran yang sangat gamblang betapa mengerikannya dunia mereka. Meskipun pada dasarnya mereka tidak akan menggangu manusia, selama manusia itu selalu mengingat TuhanNya.

Tidak sedikit dari mereka yang "dimanfaatkan" oleh manusia untuk berbuat tidak baik. Dengan demikian, mereka pun akan mengusik dunia manusia hingga banyak diantara kita yang menjadi korban. Buku ini membuka mata kita untuk tidak perlu lagi "penasaran" dengan dunia mereka, apalagi sampai membuka mata batin yang sesungguhnya oleh Allah telah ditutup sesuai fitrah manusia.

Sebagai muslim, tentu kita meyakini keberadaan mereka, karena memang sejak penciptaan awal mereka telah ada, bahkan sebelum penciptaan manusia pertama. Selain itu, percaya pada hal yang gaib atau tidak kasat mata merupakan salah satu dari rukun iman.

Sikap hati-hati dan selalu waspada tersirat dalam pesan buku ini. Supaya manusia tidak terjerumus pada hal-hal yang menyesatkan. Gambar dalam buku ini mewakili sebagian kecil dari perwujudan energi mereka. Tentu masih banyak lagi dan lebih mengerikan lagi jika sampai dunia mereka terlihat oleh mata manusia.

Wujud "pocong" yang seringkali ditampilkan di layar televisi ternyata masih biasa atau rendah tingkat menakutkannya. Di buku ini, dipaparkan dengan disertai gambar yang sangat jelas bahwa "golongan" mereka ada beberapa macam, dan tentu lebih mengerikan. Beberapa macam "Kuntilanak" juga dijelaskan, bahkan ada kegiatan semacam "Miss Kunti" yang mirip dengan kegiatan di dunia manusia. Saya sengaja tidak memfoto gambar-gambarnya, karena dengan melihat saja sudah membuat pening kepala, mual, dan bahkan sesak di dada.

Kiranya cukup sebagai penambah wawasan supaya keimanan kita pada Sang Khalik semakin kuat serta selalu ingat untuk lebih hati-hati dan waspada dimanapun dan kapanpun. Tentu tidak perlu takut pula pada mereka karena kita sama-sama makhlukNya dan jangan lupa untuk selalu berdoa supaya Dia selalu menjaga kita, karena pada dasarnya, apapun yang ada dan yang terjadi di dunia ini adalah atas izinNya.


Nganjuk, 23 Nopember 2019
Datang tak diundang, pergi minta diantar 


Kamis, 21 November 2019

NICHE blog

18 Nopember 2019,
Bertepatan pada hari Senin malam kemarin, kita dapat materi dari Mbak Rindang tentang "Niche Blog".
Apa yang dimaksud dengan niche blog?

"Niche blog adalah tema atau topik yang menjadi fokus utama bloger dalam menyajikan konten di blog. Niche untuk blog sebenarnya sangat penting, hanya saja ada beberapa bloger pemula yang mengesampingkan hal ini karena masih berfokus pada mood (ngeblog ala diary) dan kuantitas postingan (biar rajin nulis) dengan topik beragam.

Hal ini tidak salah, karena setiap orang punya niat ngeblog beda-beda. Ada yang memang ingin menuliskan banyak topik, adapula cuma satu topik. Tapi kalau kamu ingin punya blog yang menghasilkan, kamu harus memiliki maksimal 3 topik. Ada banyak niche yang digunakan oleh para bloger seperti Fashion, Beauty, Parenting, Crafting & DIY, Health, Traveling, Marketing dan bisnis online, Tutorial blog dan SEO, Internet dan Komputer, hingga Tutorial desain grafis", panjang lebar Mbak Rindang menjelaskan lewat tulisan saat itu.

Sampai hari ini, aku masih bingung untuk menentukan "Niche". Mbak Rindang bahkan memberikan contoh beberapa pertanyaan untuk mengetahui pilihan kita nantinya, contoh di bawah nanti sekalian akan saya jawab supaya dapat membantu pilihan niche untuk blog saya nantinya.

***
Jawablah beberapa atau semua pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, maka kamu akan dapat lebih mudah dalam menentukan niche blogmu. Jawaban yang paling sering muncul adalah topik yang paling cocok untuk ditulis dalam blogmu.

✅ Apa sesuatu yang mudah bagimu? Menulis tentang kegiatan
✅ Apa sesuatu yang paling kamu nikmati? Bercerita
✅ Apa yang dikatakan orang-orang kamu bagus dalam melakukannya? Bercerita
✅ Pikirkan rutinitas keseharian, apa kegiatan yang paling kamu tunggu-tunggu? Mengajar
✅ Apa kegiatan yang paling tidak pernah membuat kamu bosan? Bersama anak-anak
✅ Apa hal yang selalu muncul dalam hidupmu sejak bertahun-tahun yang lalu? Kenangan
✅ Klub/forum/kelompok/organisasi apa yang kamu  ikuti? Menulis
✅ Apa hard skill yang kamu miliki? Menulis pengalaman
✅ Apa soft skill yang kamu miliki? Gampang berteman
✅ Apa pencapaian yang pernah kamu dapatkan? Mengajar di tingkat dasar sampai perguruan tinggi
✅ Apa pujian yang pernah kamu dapatkan dari orang lain? Sabar, murah senyum.

Nah, dari beberapa jawaban di atas, ternyata saya cenderung "Suka bersama orang lain", dalam hal ini tentunya di dalam dunia pendidikan. Maka, saya memilih "Blog Niche" dengan beberapa kecenderungan bersama anak didik. Bisa berupa "Parenting, Konseling, dan Edukasi". Meski tidak menutup kemungkinan saya juga suka menulis tentang tempat wisata, kisah, maupun yang lainnya.

Salam Semangat😊


Jambore Literasi

Nganjuk, 19 Nopember 2019

Dunia tulis menulis bagiku masihlah sangat awam. Tetapi untuk terus mengasah kemampuan itu, sengaja saya bergabung dengan "Komunitas Pejuang Literasi Anjuk Ladang" atau disingkat KOPLING, dimana semua anggotanya dari daerah Nganjuk.

Dan beberapa hari lalu, salah satu teman komunitas mengajak untuk bergabung di "Jambore Literasi" yang ternyata pesertanya adalah para guru "Bimbingan Konseling" dari berbagai daerah. Tentu saja, pengalaman yang sangat berharga ini tidak bisa dilewatkan. Bergabunglah lima orang dari komunitas Kopling yang ternyata diminta sebagai "Pemateri".

Pengetahuan tentang literasi yang kita peroleh dari keluarga "ODOP" tentu sangat berguna saat itu. Kami saling berbagi tentang apa saja yang ingin mereka ketahui. Tentu saja dengan pengetahuan yang terbatas, kami tetap berusaha memberikan jawaban yang terbaik.

Diawali dengan upacara pembukaan, lalu "Ice Breaking" untuk pengenalan anggota, menentukan nama kelompok, membuat yel-yel, lalu masuk materi yang disampaikan pada kelompok-kelompok kecil. Pengalaman yang sangat berharga bagi penulis ini memberikan kesan yang sangat mendalam. Ternyata, dengan berani berbagi, pengetahuan kita akan semakin berkembang pula.

Menjelang sore, kita telah kembali ke rumah masing-masing. Kajian literasi diteruskan oleh panitia lewat online dan tentunya kita masih terus bersilaturahmi dan berkomitmen untuk memajukan dunia literasi. "Sampaikanlah ilmu, walau satu ayat." Begitulah kiranya apa yang dipesankan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib.

Taman Pandan Wilis, Nganjuk

Pribadi Hebat

Pikiran sehat adalah pribadi yang sehat         Buku Pribadi Hebat ditulis oleh Prof. Dr. Hamka dengan penerbit Gema Insani....