Maka, diperintahlah semua siswa untuk keluar kelas dan memandang langit. Awan Columbus, eh Comulus nampak beriringan memenuhi cakrawala, pertanda hujan yang mungkin saja segera tiba. Riuh suara mereka melihat gulungan awan hitam yang seakan hendak memuntahkan airnya.
Tak lama berselang, rintik hujan mulai datang. Anak-anak kembali masuk ke dalam kelas dengan kegembiraan.
"Apa yang kalian lihat di luar tadi?"
"Awan hitam yang bergerombol, lalu hujan turun."
"Tahukah kalian, darimana air hujan itu?"
"Dari langit, turun ke bumi." Tertawalah kami semua diantara gemuruh kilat yang menyambar.
"Benar, air hujan memang datang dari langit. Tetapi asalnya dari bumi juga. Matahari yang bersinar mampu membuat air dipermukaan bumi ini menguap. Uap air yang tertiup angin, membuat gulungan di udara berupa awan. Nah, awan yang bergerombol menghitam tadi disebut "Awan Comulus". Jika ia tertiup angin, maka gumpalan awan akan terurai dan jatuh ke bumi berupa air hujan. Inilah yang dinamakan "Siklus air."
Merekapun memperhatikan penjelasan guru dengan seksama. Tidak ada lagi yang mengantuk. Semua bersemangat melanjutkan pelajaran, meski ditemani rintik hujan yang tidak berkesudahan.
Setelah hujan reda, guru mengakhiri pelajaran dan berjanji akan menjelaskan tentang "asal petir" pada pertemuan selanjutnya. Anak-anak pun bersorak gembira ....
Aku juga ikut belajar..
BalasHapusHehehe ..
BalasHapusbagus, terima kasih infonyaaa :)
BalasHapusNoted mba Lilis 👌
BalasHapusAmbilll bangkuuu, syuka selalu klo tentang alam
BalasHapusjadi guru harus kreatif...lanjutkan mba lilis
BalasHapus